Harga Bitcoin Ambruk Dipicu Aksi Jual Whale dan Isu Komputasi Kuantum
Harga Bitcoin kembali terperosok di bawah US$87.000 atau sekitar Rp1,45 miliar setelah aksi jual besar-besaran dan kekhawatiran pasar terkait komputasi kuantum memicu kepanikan global.
Harga Bitcoin anjlok tajam pada Kamis (20/11) malam setelah aksi jual dari investor besar (whale) mencapai lebih dari US$1,3 miliar. Kejatuhan harga ini memicu gelombang likuidasi senilai lebih dari US$220 juta untuk posisi long dan membuat volatilitas pasar kripto kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Pemicunya datang dari pernyataan miliarder Ray Dalio, yang menyinggung potensi kerentanan Bitcoin terhadap kemajuan komputasi kuantum. Dalio menyebut teknologi tersebut berpotensi menembus sistem kriptografi yang menopang jaringan Bitcoin, memicu kembali kekhawatiran lama di komunitas kripto.
Namun analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai narasi âquantum panicâ lebih banyak memicu ketakutan psikologis dibanding ancaman teknis nyata.
âRisiko komputasi kuantum terhadap Bitcoin masih berada di level teoretis dan belum mendesak. Kalau pun ada terobosan yang mampu mendekripsi Bitcoin, sistem perbankan global yang berbasis RSA justru jauh lebih rentan. Jadi, kepanikan ini lebih dipicu persepsi, bukan realita teknologinya,â jelasnya.
Whale Jual Bitcoin 11.000 BTC, Pasar Tambah Tertekan
Tekanan pasar semakin besar setelah perusahaan analitik Arkham mengungkap bahwa Owen Gunden, early adopter Bitcoin sejak 2011, menjual seluruh kepemilikannya sebesar 11.000 BTC. Aksi ini dianggap sebagai kapitulasi besar yang memperparah suplai di pasar.
Menurut Fyqieh, langkah satu entitas besar tidak selalu mencerminkan arah pasar secara keseluruhan.
âPenjualan besar oleh satu entitas tidak bisa dijadikan indikator sentimen jangka panjang. Tapi benar bahwa suplai tambahan dalam kondisi pasar rapuh dapat mempercepat koreksi,â ujarnya.
Data Coinglass mencatat lebih dari 222.000 trader terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Pada awal sesi perdagangan AS, likuidasi long mencapai lebih dari US$264 juta dalam satu jamâcerminan tingginya leverage di pasar derivatif.
ETF Bitcoin Mulai Masuk, Tetapi Sentimen Masih Campuran
Di tengah tekanan bearish, ETF Bitcoin di Amerika Serikat justru mencatat arus masuk sebesar US$75 juta setelah lima hari berturut-turut mengalami arus keluar. BlackRock IBIT menjadi kontributor terbesar.
Meski begitu, Fyqieh menilai investor institusi masih berhati-hati menambah eksposur.
âArus masuk ETF menunjukkan masih ada minat beli dari institusi, namun volumenya belum cukup menjadi katalis besar. Mereka melihat penurunan ini sebagai peluang, tetapi menunggu stabilitas makro sebelum agresif,â kata Fyqieh.
Ia menyebut area US$84.000âUS$73.000 sebagai zona âmax painâ, yang berpotensi menjadi titik kapitulasi terakhir jika tekanan jual berlanjut.
Sementara itu, ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed juga ikut membebani pasar. Ekspektasi pemotongan suku bunga yang melemah menandakan risiko pengetatan likuiditas, kondisi yang secara historis cenderung menekan Bitcoin.
Meski begitu, cadangan stablecoin di bursa mencapai rekor US$72 miliar, menandakan likuiditas menunggu untuk masuk kembali ketika pasar stabil.
Apakah Siklus Bull Berikutnya Berakhir?
Laporan CryptoQuant menunjukkan Bitcoin memasuki fase paling bearish dalam siklus bull 2023â2025, dengan Bull Score turun ke level 20/100 dan harga kini berada di bawah MA 365 hari.
Namun Fyqieh menilai kondisi ini belum menandai akhir siklus bullish.
âPenurunan 25â30% itu wajar dalam market bullish. Bahkan dalam kondisi bearish, Bitcoin sering rebound kuat. Level US$84.000 hingga US$90.000 perlu dipantau sebagai indikator pembalikan,â katanya.
Data Santiment juga menunjukkan mayoritas trader ritel kini memprediksi harga Bitcoin jatuh di bawah US$70.000, sinyal yang sering menjadi indikator kontrarianâdi mana pasar justru bergerak sebaliknya. Indeks Fear and Greed turun ke 15/100, level ekstrem yang kerap diikuti pemulihan dalam beberapa bulan berikutnya.
Dengan kombinasi panic selling, isu komputasi kuantum, aksi jual whale, hingga dinamika ETF, pasar kripto masih berada dalam badai volatilitas.
âVolatilitas seperti ini adalah bagian dari karakter Bitcoin. Investor jangka panjang tidak fokus pada gejolak harian, tetapi struktur harga jangka panjang yang masih solid. Yang penting adalah manajemen risiko, bukan mengejar harga,â tegas Fyqieh.





